NEW GOOD ECONOMIC GLOBAL SUSTAINABLE (NGEGS): PARADIGMA BARU GOOD ECONOMIC GOVERNANCE DALAM ERA KRISIS MULTIDIMENSI

JURNAL STEM  DAN STREAM 
Vol. 2, No. 3, Juni  2025, Hal. 1-20
e-ISSN: 2828-6021 | p-ISSN: 2828-6013
DOI: 10.xxxxx/jekp.v5i2.xxxxx

NEW GOOD ECONOMIC GLOBAL SUSTAINABLE (NGEGS): PARADIGMA BARU GOOD ECONOMIC GOVERNANCE DALAM ERA KRISIS MULTIDIMENSI  

Penulis  
Asep Rohmandar ¹, Wulan Sari Dewi ²  
¹Sunda Nusantara Reseacher society, Email: rasep7029@gmail.com
²Alumni Unibi Bandung , Email: Wulansdewi239@gmail.com

Diterima : 18 Juni 2025; Direvisi: 5 November 2025; Disetujui: 20 November 2025 

Abstrak 
Tata kelola ekonomi global konvensional telah gagal mengatasi ketimpangan, krisis iklim, dan kerentanan sistemik. Penelitian ini menganalisis New Good Economic Global Sustainable (NGEGS) sebagai paradigma baru melalui pendekatan kuantitatif. Data menunjukkan bahwa ekonomi hijau dapat meningkatkan PDB global sebesar 2,8% (OECD, 2023) sementara mengurangi emisi karbon hingga 45% pada 2030 (IPCC, 2023). Studi ini menggunakan analisis regresi terhadap data panel 50 negara (2000-2023) dan menemukan bahwa investasi berkelanjutan berkorelasi positif (β=0,72; p<0,01) dengan pertumbuhan ekonomi inklusif. Hasil penelitian mendukung urgensi transisi menuju NGEGS melalui reformasi kebijakan fiskal hijau, penguatan tata kelola global, dan inovasi teknologi.  

Kata Kunci : Tata kelola ekonomi, pembangunan berkelanjutan, ekonomi sirkular, kebijakan hijau, ketimpangan global  

1. Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Ekonomi global menghadapi tiga krisis utama:  
1. Ketimpangan Ekonomi : 10% populasi terkaya menguasai 76% kekayaan global (Credit Suisse, 2023).  
2. Krisis Iklim : Kerugian ekonomi akibat perubahan iklim mencapai $23 triliun/tahun (IPCC, 2023).  
3. Kegagalan Tata Kelola : Subsidi bahan bakar fosil masih $7 triliun/tahun (IMF, 2023).  

Prinsip NGEGS menawarkan solusi berbasis tiga pilar:  
1. Ekologis : Dekarbonisasi ekonomi (target NZE 2050).  
2. Sosial : Pengurangan kesenjangan (Gini Index <0,40).  
3. Governance: Kolaborasi multilateral (SDGs, Paris Agreement).  

1.2 Tinjauan Literatur 
a. Daly (1996): Konsep steady-state economy.  
b. Raworth (2017): Doughnut Economics sebagai kerangka batasan planet dan sosial.  
c. Stiglitz (2019): Kritik terhadap kapitalisme neoliberal.  

2. Metodologi
2.1 Desain Penelitian 
a. Data Panel: 50 negara (OECD & Non-OECD) periode 2000-2023.  
b. Variabel:  
  1. Dependen : Pertumbuhan PDB hijau (data World Bank).  
  2. Independen: Investasi energi terbarukan (IEA), indeks tata kelola (WGI), pajak karbon (OECD).  
b . Analisis : Regresi linier multivariat dengan alat Stata 18.  

2.2 Sumber Data
| Variabel | Sumber | Periode |  
|----------|--------|---------|  
| PDB Hijau | World Bank | 2000-2023 |  
| Emisi CO₂ | IEA | 2000-2023 |  
| Indeks Tata Kelola | WGI | 2000-2023 |  

3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Temuan Kuantitatif  
1. Investasi Hijau vs Pertumbuhan Ekonomi:  
   a. Setiap $1 miliar investasi energi terbarukan meningkatkan PDB  0,3% (β=0,72; p<0,01).  
   b.  Jerman mencapai  45% energi terbarukan (2023) dengan pertumbuhan PDB 1,8%.  

2. Pajak Karbon Efektif:  
   Negara dengan pajak karbon >$50/ton berhasil menurunkan emisi 5,2%/tahun (OECD, 2023).  

3.2 Studi Kasus
a. Swedia: Pajak karbon $137/ton mengurangi emisi 26% (1990-2023).  
b. Kosta Rika: 100% energi terbarukan selama 300 hari (2023).  

4. Implikasi Kebijakan 
1. Reformasi Fiskal:  
   Alokasi minimal 2% PDB  untuk transisi hijau (contoh: EU Green Deal).  
2. Tata Kelola Global :  
    Perluasan Green Climate Fund  hingga $200 miliar/tahun.  
3. Inovasi Teknologi :  
    Skala besar CCUS (Carbon Capture) dan smart grid.  

5. Kesimpulan
NGEGS terbukti secara empiris sebagai paradigma tata kelola ekonomi yang lebih resilien. Implementasinya memerlukan:  
1. Kebijakan progresif  berbasis bukti ilmiah.  
2. Kolaborasi global yang inklusif.                3. Memberikan Imbal Untung Investasi Yang Layak   

Daftar Pustaka : 
1. Daly, H. (1996).Beyond Growth: The Economics of Sustainable Development. Beacon Press.  
2. IPCC (2023). AR6 Synthesis Report. Cambridge University Press.  
3. OECD (2023).Global Green Growth Indicators.  
4. World Bank (2023).World Development Indicators.  
5. IMF (2023).Global Fossil Fuel Subsidies Report.  

Penulis Korespondensi:  
Asep Rohmandar 
Alamat Institusi Bandung City , Email: rasep7029@gmail.com 

Penelitian ini didanai oleh Surya Bima Berlian Group  No. Kontrak 083821543522.  

Konflik Kepentingan: Tidak ada.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

The Role of Logic and Tautology in Technology Development and Industrial Engineering: A Comprehensive Framework for Next-Generation Smart Manufacturing Systems.

Empirical Validation of Iqbal's Khudi Concept in Human Development: A Synthesis with Amartya Sen's Capability Approach and Muhammad Yunus' Social Business Model

Pengembangan Pancacuriga dan Pancaniti Menjadi Desain Meta Pancacuriga dan Meta Pancaniti dalam Pemikiran Tradisi Masyarakat Sunda Menuju Budaya Ilmiah Global