Problematik Bahasa Ibu dalam Hegemoni Bahasa Ilmiah Global
Problematik Bahasa Ibu dalam Hegemoni Bahasa Ilmiah Global
Pendahuluan
Bahasa ibu (mother tongue) merupakan fondasi identitas budaya dan kognisi individu. Namun, dalam ekosistem ilmiah global yang didominasi oleh bahasa Inggris, bahasa ibu sering terpinggirkan, menciptakan ketegangan antara pelestarian budaya dan tuntutan akademik. Situasi ini memunculkan masalah kompleks: apakah bahasa lokal dapat bertahan dalam standar ilmiah global, ataukah mereka akan tergerus oleh homogenisasi linguistik?
1. Dominasi Bahasa Inggris dalam Ilmu Pengetahuan
a. Imperialisme Linguistik
- 95% publikasi ilmiah terindeks Scopus ditulis dalam bahasa Inggris (Van Weijen, 2012).
- Dampak: Peneliti non-Inggris dipaksa mengadopsi bahasa asing, mengorbankan kedalaman ekspresi budaya.
b. Marginalisasi Bahasa Lokal
- Contoh: Istilah medis tradisional Jawa (jamu, obat kampung, Sunda) sulit masuk literatur biomedis global karena tidak ada padanan Inggris yang tepat (Haryanto, 2020).
2. Dilema Pendidikan & Riset
a. Kesenjangan Akses
- Mahasiswa daerah (e.g., pedesaan Indonesia) kesulitan memahami materi ilmiah berbahasa Inggris, memperlebar gap pendidikan (UNESCO, 2021).
b. Hilangnya Pengetahuan Indigenous
- Studi ekologi tradisional suku Ainu (Jepang) atau Dayak (Indonesia) sering tidak terdokumentasi dalam jurnal internasional karena kendala bahasa (Maffi, 2018).
3. Upaya Resistensi & Solusi. a. Glokalisasi Bahasa Ilmiah
- Model India: Jurnal ilmiah bilingual (Inggris-Hindi) untuk memadukan standar global dan lokal (Annamalai, 2023).
b. Teknologi Digital
- AI penerjemah (e.g., Google NMT) bisa jadi jembatan, tetapi berisiko mengurangi nuansa budaya (Kenny, 2022).
c. Kebijakan Pendidikan
- Kurikulum multibahasa seperti di Afrika Selatan (Bahasa Zulu + Inggris) (Heugh, 2021).
4. Tantangan ke Depan
a. Ekosistem penerbitan masih bias terhadap bahasa Inggris (perlu reformasi sistem peer-review).
b. Keterbatasan pendanaan untuk riset berbasis bahasa ibu.
Kesimpulan
Bahasa ibu adalah jendela pengetahuan kultural yang tidak boleh dikorbankan untuk memenuhi standar global. Solusinya terletak pada:
1. Penerbitan ilmiah inklusif (multibahasa).
2. Pendidikan bilingual yang berimbang.
3. Pemanfaatan teknologi untuk preservasi. 4. bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan arsip peradaban. 5. bahasa ibu dalam sain global perlu dilindungi dalam arus globalisasi ilmu pengetahuan.
"Menjadi ilmiah tidak harus berarti meninggalkan bahasa nenek moyang." — Adaptasi dari Ngũgĩ wa Thiong’o (1986).
Daftar Pustaka Utama
1. Teori Linguistik:
- Ngũgĩ wa Thiong’o. (1986). Decolonising the Mind: The Politics of Language in African Literature. James Currey.
- Haryanto, S. (2020). Cultural Erasure in Global Science: The Case of Javanese Ethnomedicine. Asian Studies Review.
2. Kebijakan Bahasa:
- Skutnabb-Kangas, T. (2000). Linguistic Genocide in Education. Routledge.
- UNESCO (2021). Global Education Monitoring Report: Language Barriers.
3. Studi Kasus Global:
- García, O. (2009). Bilingual Education in the 21st Century. Wiley-Blackwell.
- Tupas, R. (2020). Inequalities in Academic Publishing. Journal of Sociolinguistics.
- Heugh, K. (2021). Multilingual Education for Sustainable Development. Cambridge Journal of Education.
- Phillipson, R. (2009). Linguistic Imperialism Continued. Routledge.
- Van Weijen, D. (2012). The Language of the Future: The Dominance of English in Science. Elsevier.
- Kenny, D. (2022). The Ethics of Machine Translation in Preserving Minority Languages. MIT Press.
- Maffi, L. (2018). Biocultural Diversity and Sustainability. Annual Review of Anthropology.
Komentar
Posting Komentar